Bab 81: Klimaks yang Membunuh Harga Diri

1530 Kata

Hujan di luar sana semakin mengamuk, menghantam atap rumah dengan irama yang kacau dan liar. Suara guntur sesekali menggelegar, menggetarkan kaca jendela. ​"Lihatlah suamimu, Amelia. Tidurnya sangat lelap, bukan? Dia bahkan tidak sadar bahwa di ruangan ini, istrinya sedang menikmati sentuhan pria yang jauh lebih hebat darinya." Ucapnya dengan nada mengejek. bagi Ardi, suara badai itu adalah musik latar yang sempurna, sebuah peredam alami yang sangat efektif bagi jeritan, rintihan, dan desah pengkhianatan yang terjadi tepat di samping Bima yang tak berdaya. Ardi, dengan tatapan yang semakin tajam dan berkilat penuh kemenangan, menghentikan gerakannya sejenak. Ia menikmati pemandangan di bawahnya dengan rasa superioritas yang absolut. Ia menatap wajah Amelia yang hancur; pipinya yang sem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN