Elina menatap Radit yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Wajahnya tampak serius, seperti menyimpan sesuatu yang belum sempat dikatakannya. “Kamu habis dari mana?” tanya Elina, mencoba membaca ekspresi Radit. “Tadi Rian menghubungi. Dia ngajak ketemuan,” jawab Radit sambil menatap layar ponselnya, seolah memastikan sesuatu. Elina mengernyit. “Ketemuan? Sekarang?” Radit mengangguk pelan. “Dia bilang punya bukti penting tentang orang yang selama ini meneror kamu.” Mata Elina membelalak seketika, rasa penasaran dan cemas berbaur menjadi satu. “Bukti? Maksudnya… dia tahu siapa pelakunya?” “Sepertinya begitu. Tapi dia nggak mau jelaskan lewat telepon,” kata Radit tegas. “Makanya aku harus ketemu dia sekarang.” Elina mengangguk, mencoba menenangkan dirinya. “Yaudah, kamu temuin dia

