Malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Elina duduk di sofa ruang tengah, menatap langit melalui jendela besar yang setengah terbuka. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma kenangan dan harapan yang entah mengapa, membuat hatinya tenang. Hari ini begitu penting baginya—ibunya Radit, wanita yang dulu begitu dingin dan sulit didekati, akhirnya datang... dan bukan untuk mencaci, melainkan merangkul. Elina masih bisa merasakan pelukan itu, hangat dan penuh keikhlasan. Restu yang selama ini dia tunggu, akhirnya tiba. Namun, satu hal belum ia lakukan: memberi tahu Radit. Dengan jantung berdebar, ia mengangkat ponsel dan mengetik cepat, sebelum akhirnya menghubungi lelaki yang akan segera menjadi suaminya. "Halo Radit," ucapnya pelan. "Tumben kamu telepon malam-malam," sahut suara d

