Elina terdiam membeku saat sosok itu melintas di kejauhan. Langkahnya seketika terhenti, matanya membelalak penuh keraguan. “Mas Adrik...” bisiknya nyaris tak terdengar, namun jantungnya berdebar kencang, seakan mengiyakan ketakutannya. Tidak mungkin... pikirnya. Adrik sudah tiada. Sudah dikubur. Tapi mata Elina tidak bisa berbohong. Sorot mata pria itu, cara berjalannya... terlalu familiar. Tubuh Elina sedikit gemetar saat ia mengganti kembali bajunya. Sambil mematut diri di cermin, ia memeriksa penampilannya sekilas, walau pikirannya jauh lebih sibuk memproses kemungkinan bahwa suaminya—yang selama ini ia ratapi kematiannya—mungkin saja masih hidup. “Kalau benar itu dia... kenapa sekarang?” bisiknya pada dirinya sendiri. “Elina, kamu mau ke mana?” suara Tante Dina membuat Elina terk

