Elina benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ketakutan menyelimuti dirinya, terlebih lima laki-laki itu kini memandangnya dengan tatapan yang membuat tubuhnya gemetar. Dia harus lari dari tempat ini—sekarang juga. Tapi tubuhnya seperti membeku, tidak bisa bergerak, tak tahu harus berbuat apa. “Lepaskan aku!” teriaknya panik. Erika tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa sekarang. xl “Teriak saja sepuasmu,” ucap salah satu dari mereka dengan nada mengejek. Saat salah satu dari mereka mulai mendekat, tiba-tiba— s Brak! Pintu didobrak keras. Semua orang di ruangan itu sontak menoleh, terkejut oleh suara keras tersebut. Elina menoleh kearah orang tersebut dan bernapas lega. “Siapa kamu?!” seru Rudi, matanya menyipit curiga. “Sialan, jangan ganggu urusan kami!” kata Al

