Bela mengikuti Rian dan masuk ke dalam gudang tua yang sudah lapuk dimakan usia. Bau lembap dan debu memenuhi udara, membuat napas Bela sedikit sesak. Mereka bergerak perlahan, menyusuri dinding yang sebagian sudah runtuh. Di balik celah kayu yang menganga, tampak sosok Maya tengah mengintip ke sebuah ruangan gelap. “Dia sedang apa?” bisik Bela, suaranya hampir tak terdengar. Rian menatap lurus ke depan. “Kamu lihat itu? Wanita yang diikat di kursi… dia ibu mertuanya Elina.” Bela terkesiap. Matanya membelalak ketika menyadari siapa wanita yang terikat itu. Tubuhnya tampak lemah, bibirnya kering, dan wajahnya penuh luka. “Apa… maksudmu? Kenapa dia di sini? Dan kenapa Maya—” “Ssst!” Rian menaruh telunjuk ke bibirnya, matanya tajam memperhatikan gerak-gerik Maya yang kini berbalik hendak

