Radit melangkah pelan memasuki ruang perawatan, tempat Elina terbaring. Detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya, seolah tubuhnya merespon emosi yang selama ini dia tahan. Begitu melihat Elina yang tertidur lelap, dadanya terasa sesak. Wajah itu... begitu tenang, seolah tak pernah melewati badai hidup yang mengguncang mereka belakangan ini. Ia mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu perlahan menyentuh rambut Elina dengan penuh kelembutan. “Kamu pasti capek sekali...” bisiknya lirih. Ia menunduk, memberikan kecupan singkat di kening Elina. Momen itu membuat hatinya sedikit lebih tenang. Dekat dengan wanita yang ia cintai seperti ini memberinya kekuatan untuk terus bertahan. Namun, ketika matanya berpindah ke ranjang kecil di sisi lain, tempat anak mereka terbaring dalam selimut p

