Bab 93 Bela Yang Pergi

1409 Kata

Elina baru saja selesai mandi. Sisa-sisa make up pesta telah lenyap, berganti dengan wajah polos yang terlihat lelah. Pesta tadi menyisakan kelelahan bukan hanya secara fisik, tapi juga batin—terutama karena sikap ibu Radit yang masih dingin terhadapnya. Di balik aroma sabun yang masih melekat di kulit, pikirannya melayang-layang. "Bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Radit nanti?" gumamnya lirih. Sorot matanya menatap kosong ke arah jendela kamar. Ia terlanjur menyayangi anak Radit, menganggapnya seperti darah daging sendiri. Tak ada yang bisa memisahkan mereka—Elina bersumpah dalam hati. Tiba-tiba, ponselnya bergetar pelan di meja. Nama 'Kina' muncul di layar. Elina mengernyit. “Kina?” ujarnya pelan. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab panggilan itu. “Halo, Kina. Ada apa?” “Kamu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN