Di dalam kantor yang mulai lengang menjelang siang, Elina terduduk di meja kerjanya dengan wajah masam. Tangannya sibuk menumpuk berkas-berkas yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Wajahnya jelas menunjukkan kekesalan yang ditahan-tahan. “Kenapa dia gak masuk juga hari ini?” gerutunya dengan nada tajam. “Apa dia pikir semua ini bisa selesai sendiri?” Dani, rekan kerjanya, sudah dua hari tak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Dan karena itu, semua pekerjaan penting otomatis dialihkan padanya. Beban bertambah, sementara kepala terasa mau pecah. Tiba-tiba, aroma kopi hitam menyeruak. Radit datang menghampiri dengan senyum tipis dan secangkir kopi hangat di tangan. Dia tahu betul ekspresi seperti itu artinya Elina sedang berada di ambang ledakan. “Ini... buat meredakan sedikit amar

