Elina mendapatkan telepon dari Kina. Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangkatnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, firasatnya mengatakan ini bukan telepon biasa. "Halo, Kina," ucap Elina dengan suara pelan namun penuh kewaspadaan. "Aku sudah mendapatkan buktinya. Sari menyimpan obat itu... dan aku berhasil mengambilnya diam-diam," ujar Kina dengan napas terengah, seperti baru saja melakukan sesuatu yang berbahaya. Elina membelalakkan mata. "Kamu yakin itu obat yang menyebabkan Jio keracunan?" "Aku yakin. Dan lebih dari itu, Sari tidak bekerja sendirian. Ada seseorang di balik semua ini. Seseorang yang sangat dekat dengannya." Suara berat dan asing tiba-tiba terdengar dari arah pintu. "Aku tahu siapa orang itu," ucap Dani sambil berjalan masuk dengan langkah tenang tapi pasti.

