Elina baru saja selesai mandi dan membersihkan diri. Setelah mengenakan pakaian santainya, ia melangkah menuju kamar kecil yang terletak di ujung lorong—kamar tempat Jio, anak tiri yang kini mulai ia sayangi seperti anak kandungnya sendiri, tertidur. “Jio sayang...” bisik Elina sambil memeluk tubuh mungil itu penuh kasih. Jio terlihat nyenyak, wajahnya damai dalam balutan selimut tipis. Elina tersenyum kecil, lalu menoleh ke arah Bi Yati, asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh dari pintu. “Sudah ada Non Elina, kalau begitu Bibi pamit keluar ya,” ujar Bi Yati sopan. “Eh, tunggu Bi…” Elina menahan langkah Bi Yati, tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya gelisah. “Aku mau tanya sesuatu.” Bi Yati menoleh, agak heran. “Ada apa, Non?” “Lisa mana? Bukannya dia yang jaga Jio malam ini

