Pagi hari yang cerah. Langit bersih tanpa awan, matahari menggantung rendah dengan sinarnya yang hangat menembus dedaunan dan menyentuh kap mobil hitam milik Radit yang terparkir rapi di depan rumah. Radit sudah duduk di balik kemudi, tapi mesinnya belum menyala. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk setir, sementara matanya terus melirik jam tangan. Sesekali ia mendesah—tak sabar. Akhirnya, pintu rumah terbuka. Elina muncul dengan langkah cepat. Dia terkejut saat melihat mobil Radit masih terparkir. Keningnya berkerut, alis kirinya naik, mencerminkan rasa heran. "Pak Radit belum berangkat?" gumamnya lirih. Radit menurunkan kaca jendela dan melirik tajam. "Lama amat. Ayo masuk!" Elina sedikit bingung, tapi langsung menuruti. "Saya kira Pak Radit udah duluan ke kantor." "Ayo cepat, jangan ban

