Radit menatap pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Elina. Nafasnya pelan, tetapi penuh beban. Di balik ketenangan wajahnya, pikirannya penuh kegelisahan. "Syukurlah... dia belum curiga," gumamnya lirih. Sebuah senyuman samar terukir di wajahnya. Namun, senyum itu belum sempat mengembang sempurna ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nada panggilan yang terdengar serius membuat alis Radit langsung mengernyit. Tanpa menunda, ia mengangkatnya. "Halo." "Selamat pagi, Pak Radit. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin melaporkan kejadian kemarin di kantor…" Nada suara dari seberang sana terdengar berat. Radit langsung berdiri tegak, tubuhnya menegang. "Kejadian apa maksudmu?" "Terjadi perkelahian kecil antara Bu Elina dan Bu Kina, Pak. Tapi yang membuat masalah semakin rumit… semua karyawa

