“Harus dengan apa lagi Abi menasehati, Umi? Apa Umi tidak menganggap Abi sebagai pemimpin Umi? Begitu bebalnya Umi terus merecoki rumah tangga anak Umi. Hasna itu wanita Umi, sama seperti Umi, sejak dia menikah, pernah tidak sekali saja … sekali saja Umi memikirkan kebahagiaannya? Pernah tidak sekali saja Umi ingin mengobrol dan mengenalnya lebih dekat? Selama ini … Bertahun-tahun yang Umi pupuk adalah kebencian untuk menantu Umi sendiri … Hingga hati Umi telah mati dan setan berhasil membuat Umi terjerumus ke dalam dosa tanpa Umi sadari. Umi merasa lebih baik dari Hasna dan selalu memandang Hasna dengan begitu rendah, padahal hanya Allah lah yang berhak menilai keadaan suatu hamba. Abi tidak pernah keras pada Umi karena Abi yakin Umi akan lebih mudah luluh dengan kelembutan, namun ternyat

