Zahra menatap suaminya, Fatih dengan berlinang air mata, berusaha menekan sesak yang semakin mencekiknya. “Mas … Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur sebelum aku memberikan keputusanku tentang pernikahan keduamu dengan mantan istri kamu. Apakh selama ini kamu masih mencintainya? Masih memiliki rasa cinta walau setitik?” Zahra sesak napas rasanya mendengar permintaan suaminya yang meminta ijin ingin menikahi mantan istrinya lagi dengan alasan mantan istrinya itu menderita kanker stadium tiga. Zahra hanya ingin mendengarnya, apakah itu satu-satunya alasan atau ada alasan yang lain. Air matanya terus terbendung, luka itu justru mengantarkannya pada ingatan saat dia begitu menggebu menuruti hawa napsunya untuk bisa menjadi istri kedua Fayez. Dia merasa malu, malu kepada Allah atas dosa

