“Lo di sini juga?” “Emang anaknya Ayah cuma lo doang?” Jawaban tidak santai itu membuat Ayna terkekeh. Gemas, Ayna pun menarik tubuh Allysa lalu memeluknya dengan sangat erat. Setelah banyaknya drama beberapa tahun ini, akhirnya Ayna bisa menjinakkan Kakaknya seperti dulu. Karena moment seperti inilah yang dia inginkan seperti dulu. “Sakit, Na, ngga bisa napas gue!” Allysa berusaha menarik tangan Ayna dari lehernya. Tinggi keduanya yang tidak terlalu kontras memudahkan Ayna memeluk lehernya. Pelukan keduanya terlepas, Ayna mundur selangkah berjaga-jaga takut tangan Kakaknya membalas dengan pukulan atau cubitan. Sambil menatap Allysa kedua tangan Ayna terlipat di d**a. Pasalnya Ayna tidak tahu kenapa mereka berdua diminta ke sini secara mendadak. “Sebenarnya gue malas ke sini, apalagi

