Ace Nadindra Al-Fathan

1270 Kata

Sejak tadi Mas Reiga terus saja memelukku dan mengucapkan maaf, dia sangat menyesal tidak bisa menemaniku saat melahirkan anak kami. Aku sudah mengatakan tidak apa-apa, karena semuanya berjalan dengan sangat lancar. Yang terpenting Mas Reiga datang dalam keadaan sehat tidak kurang sedikitpun. “Apa Mas tidak mau melihat dedek?” Mas Reiga meregangkan pelukan kami, matanya berkaca-kaca lagi. Pasti dia lupa kalau anak yang dia tunggu telah lahir. Dia mengecup kembali keningku, lalu berdiri berjalan mendekat ke arah Mama juga Embun. Mereka berdua sejak kedatangan Mas Reiga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan bayi besarku. “Dik ayi Mbun, Yah,” ucap Embun dengan menunjuk adiknya. Mas Reiga mengambil Embun memangkunya dengan mencium pipinya, membuat Embun berteriak karena pelukan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN