Belum hilang kebingungan yang mencekam hati Wilona, tiba-tiba Devan meraih tengkuknya, menariknya hingga wajah mereka begitu dekat. Tatapan pria itu menembus jiwa, penuh kegelisahan yang dalam. Wilona merasakan hangat napas suaminya tersebut berhembus di kulitnya, seolah ingin membakar segala kebekuan di hatinya. Lalu, Devan berbisik dengan suara serak, hampir tergagap, "Aku mencintaimu, Wilo .... Kenapa kamu tidak bisa merasakannya? Aku capek, hatiku sakit dan aku berjuang menghadapi semua ini. Tapi kenapa, Wilo? Apa aku tidak pantas mencintaimu? Apa kurangnya aku, sampai kamu menolakku?" Mata Wilona membelalak, jantungnya berdegup keras, seperti hendak copot dari ruang d**a. "Sadar, Dev! Kamu mabuk, jangan asal bicara," ujarnya berontak, namun tatapan sendu Devan begitu menusuk hati, t

