Kata-kata itu menggantung di udara, membakar setiap harap yang selama ini terpendam. Arka membeku, seolah dunia tiba-tiba berubah dalam hitungan detik. Apa yang baru saja didengar, bukan hanya sekadar pengumuman biasa. Itu adalah janji, pengakuan dan kemungkinan yang tak pernah ia duga. Bagaimana tidak? Devan biasanya selalu menolak undangan makan malam resmi seperti itu, jika hadir pun karena terpaksa, bahkan terkadang sampai meminta Arka mewakilinya. Namun malam ini, entah apa yang merasukinya, pria itu menerima dengan antusias luar biasa. Kebingungan memenuhi mata Arka, yang terdiam mematung di depan Devan. "Apa ada yang mau kamu sampaikan lagi?" Suara Devan datar. Arka menggeleng pelan, mencoba tenang. "Tidak ada, Pak," jawabnya singkat. Dia menelan ludah, menahan berbagai pertanyaa

