Lea menghela napas panjang, dia tahu betul jika Wilona sebenarnya tidak tahan dengan keadaan saat ini. Namun, sahabatnya itu hanya sedang berusaha untuk terlihat baik-baik saja, padahal di dalam hati sangat sakit dan sulit menerima. Dia memeluk Wilona dengan erat, bukan hanya untuk menenangkan sahabatnya, tapi juga untuk meredam kepedihan yang sama-sama mereka rasakan. "Wilo, aku tahu kamu cinta sama Devan. Kamu rela melakukan apa pun supaya dia tenang," bisik Lea dengan suara bergetar. "Tapi kamu harus berani memperjuangkan hakmu, bukan membiarkan pelakor itu dengan santainya menguasai suami kamu, bebas menjelek-jelekkan kamu. Kamu pantas mendapatkan hal yang baik. Kalau Devan memang nggak bisa percaya sama kamu dan hanya bisa buat kamu sakit hati, tinggalkan!" tegasnya. Air mata Wilona

