Pagi itu berjalan pelan, seolah kota sepakat memberi jeda. Lili menyapu halaman depan dengan langkah santai, sesekali berhenti hanya untuk menarik napas. Udara tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tapi pas. Seperti hidupnya sekarang, belum sempurna, tapi mulai pas di d**a. Ia baru saja menyeduh teh ketika ponselnya bergetar. Vini: Li, kita OTW. Jangan dandan, ya. Kita mau lihat versi asli manusia yang belum siap kuliah. Lili: Aku dari kemarin juga versi asli. Belum sempat membalas lagi, klakson pendek terdengar. Vini dan Jira muncul hampir bersamaan di teras, masing-masing membawa kantong plastik. “Assalamu ... eh kok pintunya kebuka?” Vini nyelonong masuk. “Loh ini rumah atau minimarket?” sambung Jira. “Masuk bebas.” Lili tertawa. “Kalau mau masuk, salam dulu. Jangan kayak

