Pagi datang dengan cara yang lembut. Tidak ada bunyi alarm yang memaksa, tidak ada langkah tergesa. Cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden, jatuh tepat di wajah Lili. Ia menggeliat kecil, lalu berhenti, ia menyadari ada lengan yang melingkar di pinggangnya. Juna masih tertidur, napasnya teratur, hangat. Lili tersenyum kecil. Ada rasa tenang yang berbeda pagi itu bukan euforia, bukan juga bahagia berlebihan. Hanya rasa aman yang menetap, seperti selimut tipis yang tidak ingin dilepas. Ia berbalik pelan, menghadapkan wajah ke d**a Juna. Jantung pria itu berdetak stabil. Lili menutup mata sejenak, menghafal irama itu, seolah takut suatu hari lupa rasanya. “Pagi,” suara Juna terdengar serak, nyaris berbisik. Lili terkekeh pelan. “Aku bangunin kamu?” “Enggak,” jawab Juna sam

