Pagi itu, Lili terbangun dengan perasaan ringan. Ada sesuatu yang berbeda di dadanya, bukan euforia, tapi rasa antusias yang tenang. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut, lalu berdiri di depan lemari sambil menatap pakaian-pakaian yang tersusun rapi. Puncak Bogor. Nama itu kembali terlintas di kepalanya. Sederhana, tapi terasa istimewa karena perjalanan ini bukan sekadar liburan. Ini jeda. Ini hadiah kecil setelah mereka bertahan. Di ruang tengah, Juna sudah duduk dengan buku catatan dan ponsel di tangan. Wajahnya serius, alisnya berkerut tipis. “Mas belum berangkat?” tanya Lili. “Belum,” jawab Juna singkat, masih menatap layar. Lili mendekat, duduk di sampingnya. “Kenapa mukanya begitu?” Juna menutup ponselnya perlahan. “Aku lagi nyusun jadwal. Bengkel sama cafe.” “Oh,

