Kabut menyambut kedatangan mereka di kawasan Puncak. Udara dingin langsung merambat ke kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang terkena hujan semalam. Juna memarkir mobil di depan sebuah vila kecil bernuansa kayu, sederhana tapi rapi, tepat seperti yang ia janjikan pada Lili tanpa kemewahan berlebihan. Lili turun dari mobil lebih dulu. Matanya membesar ketika melihat hamparan pepohonan pinus yang berdiri kokoh di sekeliling vila. Kabut tipis bergerak pelan, seperti tirai alam yang sengaja dibuka perlahan. “Mas…” suara Lili melembut. “Ini bagus banget.” Juna tersenyum, lega. “Aku takut kamu kecewa.” “Kenapa harus kecewa?” Lili menoleh. “Aku justru suka yang kayak gini.” Juna mengangguk. Ia mengambil tas dari bagasi, lalu menggenggam tangan istrinya. Telapak tangan Lili ter

