Pagi merangkak naik bersama aroma kopi yang mengepul dari dapur kecil mereka. Hujan masih turun, tapi tidak lagi selebat tadi. Hanya rintik pelan yang sesekali menyentuh kaca jendela. Lili berdiri di depan kompor, mengenakan daster rumah yang longgar. Rambutnya masih setengah basah, diikat asal. Sesekali ia melirik ke arah kamar, memastikan Juna benar-benar sudah bangun dan tidak kembali tertidur. Beberapa menit kemudian, Juna muncul dari arah kamar, kaus hitam dan celana rumah melekat santai di tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat jauh lebih rileks dibandingkan beberapa minggu lalu. “Harumnya,” ucap Juna sambil mendekat dan memeluk Lili dari belakang. “Jangan manja,” protes Lili pelan, meski senyumnya tak bisa disembunyikan. “Aku lagi masak.” Wanita itu sedikit

