Ketukan keras di pintu kos akhirnya berhenti setelah pintu terbuka. Dua pria bertubuh besar itu berdiri dengan sikap dingin, sorot mata mereka menyapu isi kamar sempit yang berantakan. Dewa berdiri di depan, tubuhnya kaku, sementara Erika berdiri sedikit di belakangnya dengan wajah pucat. “Kamu Dewa,” ucap salah satu dari mereka tanpa tanya. Dewa mengangguk pelan. Tenggorokannya kering, suaranya nyaris tak keluar. “Iya.” “Kita ke sini baik-baik,” lanjut pria itu, meski nadanya sama sekali tidak terdengar ramah. “Uang kamu jatuh tempo. Udah lewat.” Erika memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar memegang tas kecil di sampingnya. Selama ini ia tahu Dewa punya masalah, tapi tidak pernah membayangkan situasinya akan seburuk ini ditagih langsung, di kamar kos, di depan

