Pagi itu rumah Juna dan Lili tidak sepenuhnya sunyi. Bukan karena suara kendaraan, melainkan karena suara Lili yang ribut sendiri di dapur. “Mas…,” panggil Lili sambil membuka kulkas. “Telur kita tinggal dua.” Juna yang masih setengah mengantuk keluar kamar sambil mengucek mata. “Dua masih cukup.” “Cukup buat apa?” Lili menoleh. “Buat sarapan kamu doang?” Juna tersenyum malas. “Buat kamu sama aku. Kan kita berdua.” Lili mendengus. “Iya sih… masih berdua.” Nada suaranya membuat Juna berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap istrinya. “Kenapa nadanya kayak sindiran?” Lili buru-buru menggeleng. “Nggak, nggak. Aku cuma mikir… hidup kita sekarang tuh aneh ya.” “Aneh gimana?” “Kemarin ribet, sekarang pelan… tapi kepikiran banyak hal.” Juna mendekat, mengambil telur dari tangan Lili. “S

