Juwita memandang kedua anaknya cukup lama, seolah sedang menimang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar obrolan biasa. Di kepalanya, berbagai kemungkinan berputar tiada henti. Sejauh mana ia bisa melibatkan si kembar dalam rencananya? Anak-anak itu memang terkenal usil, suka berbuat jahil, dan sering kali menikmati permainan kecil yang penuh teka-teki. Namun, kali ini berbeda. Rencana ini akan melibatkan sebuah rahasia, bukan untuk orang biasa. Melainkan ayah mereka sendiri. Itu mengapa, Juwita perlu sedikit berhati-hati. Juwita sadar betul, apapun yang dikatakan pada si kembar harus dinyatakan dengan sangat hati-hati. Bukan hanya soal apa yang ingin ia ungkapkan, tapi juga bagaimana cara ia membujuk mereka untuk bekerja sama. Juwita harus memastikan bahwa si kembar ini bisa menyimp

