Dikara kembali bukan hanya membawa makan malam, tetapi juga cemilan-cemilan. Anak-anak berlari menyambutnya di teras, wajah mereka penuh kebahagiaan. Semua lampu taman dan jalan setapak sudah nyala entah oleh Denise atau Henry, Juwita tidak benar-benar tahu. Namun, ia membiarkan anak-anak berlari menghampiri Dikara. Sepertinya itu akan menjadi kebiasaan baru setiap kali pria itu datang dan pergi. Juwita sendiri tidak bangkit dari tempat duduknya untuk ikut menyambut. Ia harus belajar membiarkan Dikara menghadapi anak-anak sendirian, memahami betapa tidak mudahnya mengendalikan mereka pada waktu-waktu tertentu. Anak-anak kembali sambil membawa jinjingan makanan, masing-masing berteriak riang bahwa makan malam sudah hampir tiba. Meja sudah ia siapkan di luar. Lampu-lampu taman di sekitar a

