Juwita menggeleng pelan. Sementara Dikara melangkah semakin dekat, masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian, ia bersandar santai di sebuah dinding. Lengan panjang itu… terbentang, membuat Juwita mustahil melewati pria dsiana. Tatapan matanya begitu jelas, tanpa ragu ataupun malu—Juwita tahu persis apa yang diinginkan pria itu. “Dikara, tolong jangan,” bisiknya. Separuh dari dirinya ingin menyerah, ingin membiarkan Dikara memilikinya sepenuhnya, menciumnya dengan penuh gairah seperti dulu saat mereka bercinta. Ia selalu menginginkan Dikara, dan pria itu sama sekali tidak menyembunyikan keyakinannya bahwa ia bisa mendapatkan hal itu kapan saja. “Hm, aku suka suara itu,” ujar Dikara sambil melengkungkan jemarinya, memanggilnya mendekat. “Ayo sini, Juwita. Izinkan aku menciummu.” Juwita kemba

