Saat ia hendak memeriksa luka di kepala, terdengar suara Billy menahan, “Jangan dipindahkan! Bisa cedera leher atau punggung. Kami sudah memanggil tim medis.” Tak lama kemudian, luka muncul. Wajahnya dipenuhi amarah. “Apa yang sudah kau lakukan, Tuan Dikara?” hardiknya. “Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak akan pernah menyakitinya!” sangkal Dikara, panik. Lisa beranjak dengan tatapan menyala. “Lalu kenapa dia bisa tergeletak tidak berdaya di dasar tangga? Kau satu-satunya orang yang bersamanya. Kau terobsesi sampai hampir gila karena wajahnya yang mirip mantanmu!” “Aku yang menelepon ambulans!” seru Dikara mengangkat ponselnya, menunjukkan panggilan darurat yang masih tersambung. “Bagus!” Lisa mendesis. “Semoga rekaman itu cukup jadi bukti untuk menjerat mu di pengadilan.” Lukman

