“Selamat sore, Tuan Zayn,” sapa Pram dengan sopan. Namun Zayn sama sekali tidak membalas sapaan itu. Tatapannya justru turun pada botol minuman yang sedang dipegang Nayla. Lalu kembali ke wajah Nayla. “Nayla.” Suara itu datar… tapi cukup membuat tengkuk Nayla meremang. “Iya… Tuan?” jawab Nayla hati-hati. Zayn melangkah mendekat beberapa langkah. Kini jarak mereka hanya beberapa meter. “Sepertinya saya membuat aturan baru terlalu terlambat.” Koridor itu semakin sunyi. Beberapa karyawan yang lewat bahkan memperlambat langkah mereka. “Nayla,” lanjut Zayn dingin, “mulai besok kamu dipindahkan tugasnya.” Nayla mengerutkan kening bingung. “Dipindahkan lagi… Tuan?” “Benar.” Zayn menatapnya lurus. “Mulai besok kamu tidak perlu lagi membersihkan koridor ini.” Nayla sedikit lega.

