Nayla terdiam. Ucapan ayahnya masih menggantung di udara. Namun kali ini… yang terngiang di kepalanya justru bukan suara Arman. Melainkan suara Zayn. Kata-kata tajam itu. Tatapan dingin itu. Dan bagaimana pria itu dengan mudah merendahkannya… seolah semua yang pernah terjadi di antara mereka tidak pernah berarti. Dada Nayla terasa sesak. Ia menunduk pelan. Tangannya mengepal di atas pangkuannya. Ia lelah. Benar-benar lelah. Bukan hanya karena hari ini… tapi karena semua yang telah ia lalui selama ini. Perlahan pikirannya melayang pada satu hal yang paling ia lindungi. Rian. Wajah anak itu muncul jelas di benaknya. Tawa polosnya. Caranya memanggil “Mama”. Dan bagaimana ia dengan polos bertanya tentang sosok ayahnya. Hati Nayla langsung mencelos. Kalau sampai… keberad

