Nayla masih berdiri di depan pintu. Tubuhnya sedikit menegang. Tatapannya belum lepas dari wajah Arman. Perasaan yang campur aduk memenuhi dadanya. Terkejut. Canggung. Dan… sedikit waspada. Karena Nayla tahu… ayahnya tidak mungkin datang tanpa alasan. Nayla menarik napas pelan. Lalu tanpa banyak bicara, ia sedikit menggeser tubuhnya. “Masuk, yah…” Suaranya terdengar datar. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Arman sempat terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia melangkah masuk ke dalam rumah kecil itu. Begitu pintu ditutup… suasana di dalam rumah terasa jauh lebih sunyi. Seolah dinding-dinding rumah itu ikut menjadi saksi pertemuan yang canggung di antara mereka. Arman berjalan perlahan, matanya kembali mengamati sekeliling. Rumah itu sangat sederhana. Perabotannya

