19. Tamu Istimewa di Mahendra Grup

1393 Kata

Zayn berdiri di depan jendela ruangannya, kedua tangan bersedekap di d**a. Pandangannya kosong menatap lalu lintas di bawah sana, tapi pikirannya jauh lebih kusut. Segala caranya seperti memantul kembali ke wajahnya sendiri. Ia sudah menekan. Sudah merendahkan. Sudah menyudutkan. Namun Nayla tetap sama-tenang, patuh, datar. Tidak marah. Tidak menangis. Tidak memohon. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada perlawanan. “b******k…” gumamnya pelan. Zayn menghembuskan napas kasar. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kehabisan akal menghadapi satu perempuan yang dulu begitu mudah ia baca. Lalu, sebuah nama melintas begitu saja di kepalanya. Irana. Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum, lebih seperti lengkungan licik yang dingin. Kemarin Nayla hanya mendengar nama itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN