45. Sebelum Janur Itu Melemgkung

1184 Kata

Malam turun pelan di rumah sederhana itu. Lampu kamar Rian temaram. Suara kipas angin berputar lembut, menemani napas kecil yang mulai teratur. Rian sudah tertidur, tangannya masih menggenggam ujung baju Nayla, seolah takut ibunya benar-benar menghilang seperti cerita dongeng yang tadi ia dengar. Nayla belum beranjak. Ia duduk di sisi ranjang, memandangi wajah putranya dalam diam. Wajah yang setiap hari ia lihat… namun malam ini terasa lebih menyakitkan. Terlalu mirip seseorang yang dulu pernah menjadi dunianya. Matanya perlahan berkaca-kaca. Tadi, saat Rian bertanya apakah ayahnya tidak menyukainya, Nayla hampir mengatakan semuanya. Hampir berkata bahwa ayahnya bukan pergi karena tidak cinta. Bukan karena punya keluarga lain. Justru sebaliknya. Ayahnya ingin bertahan. Tapi Nayla…

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN