Rumah kecil itu kembali pada rutinitasnya yang sederhana. Setelah mandi dan berganti pakaian, Nayla membantu ibunya menyiapkan makan malam. Aroma sayur bening dan tempe goreng memenuhi dapur sempit yang hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada meja makan besar, hanya tikar digelar dan tiga piring tersusun rapi. Namun bagi Nayla, momen seperti itu adalah yang paling berharga. Rian duduk bersila di depannya, wajahnya bersih setelah mandi, rambutnya masih sedikit basah. Seperti biasa, ia mulai bercerita tanpa diminta. “Tadi di sekolah Rian dapat bintang lima, Ma! Soalnya Rian bisa jawab soal Matematika paling cepat,” ujarnya bangga. “Wah, pintar sekali cucu Nenek,” sahut sang ibu sambil tersenyum. Nayla tertawa kecil. Senyum yang lepas. Senyum yang jarang muncul di tempat lain. “Hebat an

