Melihat kemunculan Zayn, Irana cepat-cepat mengubah raut wajahnya. Seolah saklar diputar, kemarahan itu menghilang, digantikan senyum manja yang dibuat-buat. Dengan langkah ringan, ia mendekat, lalu bergelayut di lengan Zayn, jarinya mencengkeram jas mahal itu seakan ia memang berhak. Tubuh Zayn menegang seketika. Veronika yang menyaksikan itu semakin tidak suka dengan Irana yang bermuka dua. Irana mendongak, mendekatkan bibirnya ke telinga Zayn, berbisik pelan-cukup pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar. “Zayn… aku cuma ingin membantumu,” bisiknya lembut, nada suaranya penuh kepura-puraan. “Perempuan seperti dia… tidak pantas berada di lingkunganmu. Aku hanya khawatir dia akan mencoreng namamu. Reputasi-mu.” Zayn tidak menjawab. Irana melanjutkan, semakin menekan. “Aku me

