Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa ganjil-sunyi, namun sarat pertanyaan. Rita beberapa kali melirik Nayla lewat kaca spion kecil di sudut jendela. Mulutnya sudah terbuka setengah, lalu menutup lagi. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi semuanya terasa tidak pantas diucapkan. Apalagi Pram ada di sana. Ia masih belum bisa mencerna kenyataan bahwa CEO yang terkenal dingin dan arogan itu muncul sendiri di rumah sakit, hanya karena Nayla pingsan. Padahal setahunya, Pak Hidayatlah yang membawa Nayla ke sana. Kehadiran Zayn terasa… janggal. Terlalu pribadi. Terlalu jauh dari citra seorang atasan. Namun Rita memilih diam. Ia segan, takut kata-katanya justru membuat Pram yang ikut mendengar ikut curiga. Pram pun sama. Tangannya mantap di setir, matanya fo

