Sinar matahari pagi menyelinap lembut lewat sela - sela gorden abu - abu di kamar tidur Demian. Cahaya hangat itu menari - nari di dinding dan menyorot tepat ke wajahnya yang masih terlelap. Matanya mengerjap pelan, mencoba beradaptasi dengan cahaya yang tiba - tiba terasa menyilaukan. Tidak ada suara alarm yang mendera telinganya pagi ini, tidak ada panggilan dari lantai bawah yang menyuruhnya turun untuk sarapan. Semua sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar konstan. Dengan malas, Demian menoleh ke arah jam dinding, jarumnya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Dia mengerutkan dahi sejenak, mencoba menyusun rencana sederhana: apa yang akan dia lakukan pagi ini? Tidak ada jadwal meeting, tidak ada agenda kerja karena ini weekend. Saat dia masih menerawang sambil menarik

