...Leah diam. Nafasnya seolah tertahan ketika lengan Demian melingkar di perutnya. Pelukan itu hangat, tenang, dan sangat dekat. Ia bisa merasakan degup jantung Demian di punggungnya, ritmenya lambat tapi kuat, seperti mengirimkan sinyal bahwa segalanya baik-baik saja saat ini. "Eh, Mas... nanti ada yang lihat lho," bisiknya pelan, tak benar-benar bermaksud menyuruh Demian melepaskan pelukannya. "Nggak akan ada yang lihat. Mbak di bawah nggak pernah naik ke lantai dua, Mama masih tidur... dan kamu juga belum mau lepasin aku kan?" bisik Demian di telinganya, suaranya agak berat, menggoda. Leah menoleh separuh, dan tanpa sadar senyumnya muncul. Ia menjawab tanpa suara, hanya dengan pandangan, pandangan yang tak menyuruh pergi, tapi juga belum sepenuhnya menyerah. "Kamu ini kok ... suka b

