"Jadi Mas Demian itu beneran demam berdarah ya sakitnya?" tanya Anya sambil membantu Shaka melepaskan kancing kemejanya. Lelaki itu baru saja pulang, setelah hampir setengah hari menjenguk sahabatnya yang tengah dirawat di rumah sakit. Shaka mengangguk pelan, meletakkan jam tangannya yang diletakkan di laci khusus dalam walk in closet. "Iya, DBD. Tapi belum tahu pasti kenanya di mana. Bisa jadi dari rumah, kantor, atau di hotel tempat dia nginep sama Leah satu atau dua minggu yang lalu. Yangti tadi sempat bilang, kayaknya akhir minggu ini mau fogging, bukan cuma di rumah mereka , tapi juga semua rumah di sini, termasuk rumah kita." Anya membelalakkan mata. "Semua rumah? Perlu ya?" "Iya, dan katanya, sebaiknya kita ngungsi dulu saat fogging. Minimal dua puluh empat jam. Aku pikir kita

