"To, kalau Edo sudah datang, kamu WA saya, ya." "Baik, Pak," jawab Yanto di ujung telepon dengan suara tegas seperti biasa. Setelah memutus panggilan, Demian meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, lalu mengalihkan pandangannya pada Leah yang kini duduk manis di seberang meja kerja. "Kenapa sampai Edo datang pun kamu harus dikabarin?" tanya Leah sambil memiringkan kepala, ekspresinya setengah heran setengah penasaran. Demian tersenyum. "Kalau Edo datang, berarti makanan kita sudah sampai. Jadi kita bisa langsung ke ruangan Shaka nggak perlu nunggu lama. Soalnya kalau lapar terus kita ke atas, dan same sana makanannya belum ada, yang ada kita malah bawaannya emosi." Dahi Leah mengerut pelan. "Emosi gimana maksudnya? Lapar kan tinggal nunggu sebent

