1. Malam Pertama yang Diperjualbelikan
Ririn duduk di tepi ranjang pengantin dengan jantung yang berdebar pelan.
Malam ini… akhirnya tiba.
Ia tersenyum sendiri.
Aldo melamarnya.
Aldo memilihnya.
Aldo menikahinya.
Pria yang ia cintai sejak kecil.
Sahabat yang tumbuh bersamanya.
Pria yang pernah terjun ke sungai tanpa ragu saat ia hampir tenggelam bertahun-tahun lalu.
Sejak hari itu, bagi Ririn, Aldo adalah segalanya.
Ia percaya, pernikahan ini bukan sekadar takdir, melainkan kesempatan.
Kesempatan untuk membalas kebaikan masa lalu.
Kesempatan untuk melunasi “utang nyawa” dengan menjadi istri yang setia, penurut, dan selalu mengalah.
Ririn tak pernah keberatan bersabar.
Tidak pernah keberatan saat Aldo bersikap dingin.
Tidak pernah memprotes saat pria itu lebih sering diam daripada memeluknya.
Bukankah Lila, sahabat terbaiknya selalu berkata begitu?
“Cinta itu soal ketulusan, Rin. Kalau kamu sabar dan tulus, Aldo pasti luluh.”
Dan Ririn percaya.
Ia menuruti nasihat sahabatnya.
Ia menjaga jarak sebelum menikah.
Ia tidak pernah memaksa.
Ia selalu mengalah.
Dan kini, ia resmi menjadi istri Aldo.
Senyumnya perlahan melembut. Ia menunduk, jemarinya meremas ujung gaun.
Malam pertama mereka.
Malam yang akan menjadi awal segalanya.
Mungkin setelah malam ini hubungan mereka akan semakin membaik.
Ririn melangkah ke arah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang pengantin dengan jantung yang berdebar pelan. Gaun putihnya sudah ia ganti dengan baju tidur yang disiapkan Aldo dan kini melekat lembut di tubuhnya. Harum bunga melati bercampur wangi parfum memenuhi kamar yang dihias begitu indah.
Ia menatap bayangannya di depan cermin dengan wajah memerah.
Baju itu terasa terlalu tipis. Terlalu berani. Tidak seperti dirinya.
Ririn menggigit bibir bawahnya pelan.
Ia bukan perempuan yang biasa mengenakan pakaian seperti ini. Bahkan saat bertunangan, ia selalu menjaga jarak. Ia percaya, semua ada waktunya. Dan malam ini… adalah waktunya.
“Untuk Aldo,” bisiknya lirih pada bayangan sendiri.
Demi menyenangkan suaminya, ia menurut. Walau hatinya sedikit risih, sedikit canggung, ia ingin terlihat cantik di mata pria yang sudah lama ia cintai.
Ia merapikan rambutnya. Mengatur napasnya.
Malam ini harus sempurna.
Ia ingin Aldo melihatnya, bukan sebagai beban, bukan sebagai perempuan yang dipaksakan orang tua, melainkan sebagai istri yang pantas ia banggakan.
Perlahan senyum kecil terbit di bibirnya.
Setelah malam ini, semuanya akan berubah.
Aldo pasti akan lebih lembut.
Lebih hangat.
Tangannya menyentuh seprai putih dengan gugup.
Menunggu seperti ini membuat jantungnya berdegup semakin cepat. Telapak tangan dan bahunya terasa dingin terkena hembusan AC kamar yang terlalu kuat.
Namun Ririn tetap bertahan dengan pakaian tipis itu.
Dengan satu tujuan-
menyenangkan Aldo.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa panjang.
Lalu, suara langkah terdengar samar di luar kamar.
Jantungnya berdetak lebih keras.
“Aldo…” panggilnya pelan, penuh harap.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa ringan. Pandangannya sedikit berputar, seperti ruangan yang perlahan menjauh darinya.
Ririn mengerjap, mencoba mengembalikan fokus.
“Mungkin karena lelah…” gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri.
Ia tidak menyadari bahwa malam itu bukan sekadar tentang gugupnya seorang pengantin baru.
Ada sesuatu yang perlahan merenggut kesadarannya dan harapannya.
Gagang pintu berputar pelan.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Dan Ririn masih tersenyum, tanpa tahu bahwa senyum itu akan menjadi yang terakhir sebelum dunianya berubah selamanya.
--------
Beberapa menit sebelumnya.
Di lorong yang sunyi, Aldo berdiri membelakangi pintu kamar pengantin. Napasnya terdengar berat, namun wajahnya tetap datar.
Gerald berdiri di hadapannya, tangan masuk ke saku celana, tatapannya tenang namun penuh kepastian.
“Dia tidak akan curiga?” tanya Gerald rendah.
Aldo menelan ludah. Rahangnya mengeras, tetapi bukan karena ragu-melainkan karena harga dirinya terasa diinjak keadaan.
“Dia percaya padaku,” jawabnya singkat.
Hening sesaat.
Lalu, seolah sedang memastikan nilai barang yang akan diserahkan, Aldo berkata pelan namun jelas,
“Ririn masih… tersegel.”
Kata itu menggantung di udara.
“Selama bertunangan dia menjaga diri. Dia perempuan yang terlalu patuh.”
Nada suaranya datar. Tanpa rasa bersalah.
Gerald tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih pada pintu kamar di belakang Aldo.
Dalam hatinya, ia tertawa sinis.
Tentu saja ia percaya.
Ia masih ingat jelas bagaimana Ririn menolaknya dulu dengan tatapan lurus dan suara tegas, mengatakan bahwa hatinya hanya untuk Aldo. Ia menjaga jarak, menjaga harga diri, menjaga dirinya dengan sangat hati-hati.
Dan kini?
Aldo sendiri yang menyerahkannya.
“Bagus,” ucap Gerald pelan.
Langkahnya maju satu tapak. Aldo secara refleks bergeser, memberi jalan.
“Setelah malam ini,” lanjut Gerald tanpa menoleh, “utangmu selesai.”
Aldo tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, membiarkan keheningan menjadi saksi betapa rendahnya ia malam itu.
Gerald memutar gagang pintu.
Di dalam kamar, Ririn masih duduk di tepi ranjang dengan sisa kesadaran dan senyum yang belum padam.
Gerald melangkah masuk.
Dan Aldo tetap berdiri di luar.
Tidak sebagai suami.
Melainkan sebagai pria yang baru saja menjual istrinya sendiri.
----------
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Gerald berdiri sesaat di ambang kamar.
Aroma melati menyambutnya lebih dulu. Lalu pandangannya jatuh pada sosok di tepi ranjang.
Ririn.
Perempuan yang dulu menolaknya tanpa ragu. Perempuan yang pernah menatapnya lurus dan berkata dengan penuh keyakinan, bahwa meskipun di dunia ini hanya tersisa satu laki-laki, ia tetap tidak akan memilih Gerald.
Kini duduk di sana. Dalam balutan pakaian tipis yang jelas bukan pilihannya sendiri.
Gerald mengerutkan kening.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Ririn tampak terlalu lemah. Kepalanya sedikit terkulai, napasnya tidak stabil. Ia seperti sedang berjuang melawan kantuk yang berat.
Gerald tidak pernah membayangkan momen ini seperti ini.
Dalam benaknya, ia ingin melihat perlawanan. Ingin melihat kesadaran penuh. Ingin melihat mata itu kembali menatapnya dengan keras kepala seperti dulu.
Bukan ini.
Bukan perempuan yang hampir tak mampu mengangkat wajahnya.
“Ririn…” panggilnya pelan, tanpa sadar.
Tidak ada respons jelas. Hanya gumaman lirih yang nyaris tak terdengar.
Gerald mengepalkan rahangnya.
Ia bukan pria yang menunggu belas kasihan. Ia bukan pria yang suka merampas dari seseorang yang tidak mampu melawan.Sementars banyak perempuan yang menginginkan dirinya.
Namun malam ini… situasinya berbeda.
Dan penampilan Ririn menghancurkan sisa rasionalitasnya.
Pakaian itu melekat di tubuhnya, membuatnya terlihat rapuh sekaligus memikat. Rambut panjangnya terurai, pipinya merona alami, bibirnya sedikit terbuka seolah sedang menahan sesuatu.
Gerald memejamkan mata sesaat.
Ia telah menginginkan perempuan ini sejak lama. Sejak penolakan itu menampar harga dirinya. Sejak ia sadar bahwa semakin ia tidak bisa memiliki, semakin ia terobsesi.
Dan kini…
tidak ada lagi yang menghalanginya.
“Aldo bahkan tidak menoleh ke belakang,” gumamnya dalam hati, nyaris pahit.
Ia melangkah mendekat.
Ririn mencoba mengangkat wajahnya. “Aldo…?” suaranya samar.
Jantung Gerald bergetar aneh.
Bukan karena simpati.
Bukan karena kasihan.
Melainkan karena kepuasan yang gelap.
Ia tidak menjawab.
Biarlah perempuan itu mengira apa yang ingin ia yakini.
Malam ini, bukan tentang cinta.
Bukan tentang kehangatan.
Melainkan tentang obsesi yang akhirnya menemukan celah.
Gerald berdiri tepat di hadapan Ririn.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa,
ia akhirnya menang.
Bersambung........