2. Sahabat, Suami dan Tuan Obsesi

1249 Kata
Di luar kamar, Aldo berdiri dengan rahang mengeras. Beberapa detik yang lalu ia masih berada di sana. Mendengar suara lirih Ririn memanggil namanya. Namun ia memilih mundur. Bukan karena ragu. Melainkan karena ia tidak ingin melihat. Aldo menoleh ke lorong yang sunyi. Lampu-lampu hotel memantulkan bayangan panjang di lantai marmer, membuat suasana terasa semakin dingin. Tangannya mengepal. “Aku tidak pernah benar-benar menyentuhnya,” katanya tadi kepada Gerald dengan nada bangga yang menjijikkan. “Dia masih tersegel. Selama jadi tunanganku, dia jaga diri.” Seolah Ririn hanyalah barang yang sedang ia promosikan. Kini, setelah pintu itu tertutup, sesuatu merayap di dalam dadanya. Bukan cinta. Bukan cemburu. Bagaimana juga mereka adalah sahabat sejak kecil. Sehingga tetap saja ada rasa tidak nyaman yang pelan-pelan terasa menggerogoti. Sial. “Salahnya sendiri,” gumamnya dalam hati, mencoba membenarkan diri. “Sudah tahu aku tidak cinta, tapi tetap saja menempel. Dan kenapa dia harus mengiyakan keinginan Ibu? Kalau dia menolak dari awal, Ibu pasti tidak akan memaksaku menikah dengannya.” Ia mengembuskan napas kasar. Selalu lebih mudah menyalahkan orang lain. Langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Seorang petugas hotel melintas sekilas. Aldo segera berbalik dan berjalan menjauh. Ia tidak ingin berada di sana. Tidak ingin mendengar apa pun. Tidak ingin tahu apa pun. Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Aldo masuk tanpa menoleh ke belakang. Dan ketika pintu lift itu menutup perlahan, di balik satu pintu kamar yang terkunci rapat, hidup Ririn berubah selamanya. --------- Gerald berdiri hanya beberapa langkah dari Ririn. Perempuan itu tampak semakin lemah. Napasnya pelan, matanya setengah terpejam, jemarinya mencengkeram ujung seprai seolah mencari pegangan. Ia seharusnya pergi. Ia tahu itu. Namun penampilan Ririn malam ini seperti racun yang perlahan merusak kewarasannya. Pakaian tipis itu bukan gaya Ririn. Ia tahu betul perempuan itu selalu sederhana, dan agak tertutup. Justru karena itulah pemandangan ini terasa begitu memukul. Gerald melangkah mendekat. “Ririn…” suaranya lebih berat dari yang ia inginkan. Tak ada jawaban. Hanya gumaman lirih yang samar. Tangannya terulur, awalnya hanya ingin memastikan perempuan itu tidak benar-benar pingsan. Ujung jarinya menyentuh lengan Ririn. Hangat. Kulit itu nyata. Bukan kenangan. Bukan bayangan masa lalu. Ririn sedikit bergerak, seperti merespons sentuhan itu. Kepalanya miring, napasnya bergetar pelan. Dan di detik itulah, sesuatu di dalam diri Gerald runtuh. Bertahun-tahun ia menginginkan perempuan ini. Bertahun-tahun ia membayangkan bagaimana rasanya berada sedekat ini. Ia ingin kemenangan. Ia ingin pembalasan. Ia ingin melihat Ririn menyadari bahwa ia tidak lagi bisa menolaknya. Namun yang ia rasakan justru lebih berbahaya. Keinginan. Bukan lagi sekadar untuk menang. Tangannya yang tadi hanya menyentuh lengan, perlahan naik, menahan tubuh Ririn yang hampir terkulai. Ririn menggumam pelan dan mendesah, “Mas…” Satu kata itu seperti percikan api. Gerald memejamkan mata sesaat. Seharusnya ia menghentikan ini. Tapi malam itu, logika kalah oleh obsesi yang terlalu lama dipendam. Ia membungkuk, jaraknya kini begitu dekat hingga napas mereka bercampur dalam udara yang sama. “Sekarang kau tak bisa menolakku lagi,” bisiknya rendah, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Ririn. Tangan Gerald perlahan menyentuh pipi Ririn dengan lembut, menarik dagu Ririn hingga mendongak ke arahnya. Gerald tidak bisa menahan diri lagi, bibirnya menyapu bibir Ririn, semakin lama semakin dalam, Ririn tidak menolak dan begitu pasrah, membuat Gerald semakin terbakar, apalagi setelah Ririn melingkarkan kedua lengannya ke leher Gerald. Gerald mendorong tubuh itu hingga terhempas di atas tempat tidur yang luas itu. Ririn terlentang di atas tempat tidur dengan mata terpejam dan nafas memburu, sama sekali tidak menyadari siapa yang sedang bersamanya saat ini. Pertahanan Gerald luruh juga akhirnya, padahal dia tidak suka seperti ini. Ini sama saja menipu, Ririn mengira dia adalah Aldo, padahal dia ingin Ririn tahu kalau dialah yang sedang bersama Ririn malam ini. Tapi saat Otak sudah tertutup oleh naf~su dan obsesi, hal itu sudah tidak penting lagi. Gerald ikut naik ke atas tempat tidur, mengungkung tubuh di bawahnya. Tangannya mulai melepaskan gaun tidur bertali spaghetti itu. Pemandangan di bawahnya membuat Gerald semakin kehilangan logika, yang ada di pikirannya hanya rasa ego untuk memiliki tubuh itu, seutuhnya. Padahal sudah jelas Ririn berstatus istri pria lain. Perlahan wajahnya mendekati wajah Ririn, kembali melumat bibir yang membuatnya candu. Tangannya ikut mengelus bahu Ririn, semakin turun dan tidak bisa dikendalikan lagi. Ririn hanya bisa mendesah pasrah tanpa perlawanan sedikitpun, bahkan saat tubuh Gerald menempel pada tubuhnya, Ririn mengalungkan tangannya ke leher Gerald, membuat Gerald semakin lupa diri. Kulit mereka bertemu dan bergesekan, menciptakan rasa hangat di ruangan dingin itu. "Arggh!" Ririn mencengkram bahu Gerald ketika merasa sesuatu memasuki tubuhnya yang paling intim. Sementara Gerald melenguh puas ketika menyadari apa yang diucapkan Aldo benar adanya, Ririn masih tersegel. Lampu kamar yang temaram membuat bayangan mereka menyatu di dinding. Deru nafas bersahutan menandai malam pertama Ririn. Malam itu tidak menyisakan teriakan. Tidak ada perlawanan yang jelas. Hanya keheningan panjang yang menjadi saksi bahwa batas telah dilewati. --------- Mobil Aldo berhenti di depan rumah Lila. Lampu teras masih menyala. Seolah memang menunggunya. Ia turun tanpa ragu. Pintu terbuka bahkan sebelum ia sempat mengetuk. Lila berdiri di sana, mengenakan cardigan tipis, rambutnya tergerai santai. Wajahnya terlihat terkejut melihat kemunculan Aldo. “Aldo?” keningnya berkerut. “Bukannya ini… malam pertamamu?” Ada jeda tipis sebelum ia melanjutkan, lebih pelan. “Dengan Ririn.” Nama itu terdengar ringan di bibirnya. Terlalu ringan untuk seorang sahabat. Aldo tersenyum tipis, lalu masuk tanpa menunggu dipersilakan. “Jangan mulai,” ucapnya datar. Lila menutup pintu perlahan. Matanya mengikuti langkah Aldo yang langsung duduk di sofa, seolah rumah itu memang tempatnya pulang. “Kamu bertengkar?” tanya Lila hati-hati. Aldo mengembuskan napas panjang. “Tidak ada yang perlu dipertengkarkan.” “Lalu kenapa kamu di sini?” Aldo menoleh, senyum sinis terukir di bibirnya. “Walaupun aku di sini… Ririn tetap bermalam pertama.” Kalimat itu jatuh seperti batu. Lila membeku. Entah mengapa, meski Aldo tidak mencintai Ririn, ada sesuatu yang berdenyut di dalam dadanya saat mengucapkannya. Rasa tidak rela yang tidak mau ia akui. Bayangan bahwa ia harus menyerahkan Ririn pada pria lain... Andai saja ia tidak kepepet… “Apa maksudmu?” suara Lila meninggi. Aldo tertawa pendek. “Bos gilamu itu. Dia bahkan bersedia membereskan semua hutang perusahaanku… hanya untuk bermalam bersama istriku.” “APA?!” Lila benar-benar terlonjak kali ini. Tatapan Aldo mengeras. “Jangan pura-pura tidak tahu.” “Dan kau setuju begitu saja?” tanya Lila, napasnya memburu. Sekilas wajahnya tampak marah. Tapi bukan karena kasihan pada Ririn. Melainkan karena satu hal yang lebih mengusik, Gerald masih menginginkan Ririn. Setelah semua upaya. Setelah semua kedekatan yang Lila bangun di kantor. Setelah semua perhatian yang ia coba tarik. Tetap saja Ririn. Selalu Ririn. “Jangan bilang kau tiba-tiba peduli pada bestimu itu,” ujar Aldo sinis. “Bukankah seharusnya kau malah senang? Aku bahkan tidak menyentuh istriku.” Ia berdiri, mendekat. “Karena cintaku hanya padamu.” Sunyi. Lila menatap Aldo. Dalam gelap matanya, ada sesuatu yang berbeda. Bukan cinta. Bukan haru. Melainkan perhitungan. Ia tahu Gerald. Pria itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan lebih besar. Dan jika ia sampai membantu menghapus semua hutang perusahaan Aldo demi Ririn… maka Ririn bukan sekadar obsesi sesaat. Dan itu berarti, posisi Lila terancam. Lila tersenyum perlahan, menyentuh d**a Aldo dengan lembut. “Kalau begitu… kau benar-benar sudah bebas sekarang?” Aldo mengangguk. “Bebas dari hutang. Bebas dari tekanan.” Lila menatapnya beberapa detik lebih lama. Lalu bertanya pelan, “Dan kalau suatu hari… Gerald ingin malam kedua?” Senyum Aldo menghilang. Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aldo tidak langsung punya jawaban. Bersambung..............
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN