Hannan berjalan cepat menyusuri koridor rumah, langkahnya mantap namun wajahnya menyimpan kegelisahan. Pagi itu, saat sedang tenggelam dalam rapat penting di kantor, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk tanpa kata—hanya satu foto. Hanya satu. Namun cukup untuk menghentikan denyut dunia sejenak. Andini. Dalam balutan gaun pengantin. Putih, sederhana, tapi kelewat indah untuk disebut biasa. Rambutnya ditata elegan, riasannya halus, dan senyumnya—Tuhan—senyumnya terlalu mahal untuk dikirim lewat pesan singkat seperti itu. Bukan hanya itu yang membuat jantung Hannan berdebar. Melainkan fakta bahwa dia tidak diberi tahu soal ini. Ketika dia sampai di depan kamar yang dimaksud, langkahnya terhenti oleh sosok tegas Ira yang sudah berdiri seperti penjaga gerbang istana. "Minggir," ujar Hannan

