Lamaran Sederhana.

1082 Kata

Pagi itu, matahari belum tinggi ketika Hannan mengetuk pintu kamar. Ketukan pelan, tapi cukup untuk membangunkan Andini yang masih tidur sambil mendekap Lingga. Mata perempuan itu terbuka perlahan, melihat Hannan berdiri di ambang pintu dengan pakaian santai—kaus hitam, celana panjang kain, dan sepasang sepatu hitam yang tampak baru. "Mas Hannan?" "Selamat pagi." "Pagi. Tumben sekali rapi." "Kamu juga harus siap–siap. Kita mau pergi." Andini bangkit pelan dari tempat tidur, mengerjap. "Pergi? Masih jam enam. Mau pergi ke mana?" "Nanti kamu tahu," jawab Hannan singkat. "Saya mau bawa kamu ke tempat penting." Andini ingin protes, tapi mengenal Hannan, dia tahu itu sia-sia. Beberapa puluh menit kemudian, mereka sudah berada dalam mobil. Hannan menyetir sendiri, dengan satu tangan mengg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN