Udara terasa lembab, namun bukan karena hujan. Ada hawa ganjil yang Andini sendiri tak bisa jelaskan. Tangannya masih sedikit bergetar, sisa dari kejadian yang baru saja terjadi—kejadian yang nyaris merenggut nyawanya. Hannan berjalan setengah langkah lebih cepat dari Andini, menggendong Lingga yang masih tertidur di dadanya. Wajah pria itu nyaris tanpa ekspresi. Hening. Tapi mata tajamnya terus menelusuri sekitar. Sekilas, Hannan menoleh ke titik tempat motor berjaket hitam itu melintas, lalu lenyap. Tak ada suara kemarahan keluar dari mulutnya, tapi aura tubuhnya berbicara banyak—gelap, penuh tekanan. Andini memperhatikan langkah Hannan yang terasa lebih berat dari biasa. Pria itu memang tidak berkata apapun sejak menyelamatkannya. Tapi justru karena itu, dia tahu: sesuatu sedang berge

