Senja jatuh pelan di balik kaca jendela ruang kerja keluarga Alfaruq. Warna jingga menelusup masuk, menabrak perabot mewah yang serba gelap. Di tengahnya, duduk dua sosok yang sedang tenggelam dalam percakapan: Lena Alfaruq, matriark penuh wibawa, dan Hannan Alfaruq, lelaki yang dunia hormati karena ketegasan dan ketepatan langkahnya. Meski damai dari luar, hawa di dalam ruangan terasa padat. Ada ketegangan halus yang mengendap, menyusup pelan ke dalam setiap jeda pembicaraan. Lena duduk di hadapan putranya, menyilangkan kaki anggun dengan elegansi khas seorang perempuan yang sudah terlalu sering bersentuhan dengan dunia kekuasaan. Wajahnya tenang, tapi matanya penuh isi. "Mereka mencium desas–desus tentang kedekatanmu. Sesuatu yang tidak kamu sukai," ujarnya, membuka percakapan dengan

