Tanpa menunggu, Hannan berjalan ke luar rumah dengan Lingga dalam pelukannya. Andini menyusul di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil, Hannan mengambil alih kemudi. "Kamu yakin bisa menyetir dalam kondisi seperti ini?" tanya Andini. "Fokus saja pada Lingga. Saya tidak akan mati sekarang," jawab Hannan cepat, datar, dan seperti biasa—cukup untuk membuat lawan bicara diam. Perempuan yang tak henti berdoa di dalam hati itu hanya bisa mengangguk, sambil memegangi bayi di kursi belakang. Sepanjang perjalanan, Andini sesekali memandang ke depan. Wajah Hannan tampak fokus namun berkeringat. Satu tangannya menggenggam setir erat, yang lain sesekali menyentuh d**a seperti menahan sesak. Andini menggigit bibir. Kekhawatiran yang sama terasa menyesakkan. Bukan hanya soal Lingga, tetapi juga a

